Your Ad Here

Tuesday, July 15, 2008

[Fadli Wdt Blog] Hadiahnya Kasih Sayang yang Manis

Kita seringkali membutuhkan sebentuk kesenangan-kesenang an kecil, kebahagiaan- kebahagiaan sejenak yang bisa membuat kita rileks, tenang dan nyaman, semacam oase dari hati kita, perasaan kita, lepas dari hiruk pikuk kehidupan, walaupun itu bisa cuma sepuluh menit, sejam atau dua jam dan kadang-kadang bisa beberapa hari.

Kesenangan-kesenang an kecil itu seringkali tidaklah sangat wah, mungkin bagi sebagian orang, bermain dengan anak, mendengar suara anak, sudah merupakan obat bagi ketegangannya dalam menghadapi keseharian. Bagi sebagian lain, mengamati koleksi perangkonya sudah merupakan suatu surga atau periode yang menyenangkan, membawanya ke alam lain yang memerikan kebahagiaan dan ketenangan tersendiri.

Bagi suami - istri, ketegangan dalam mengarungi kehidupan rumah tanggapun seringkali membutuhkan semacam oase atau oasis kehidupan yang lalu bisa memberikan rasa nyaman, relaks dan bahagia yang akan menyegarkan dan lalu menciptakan semangat baru dan energi baru untuk menjalani hari-hari mendatang dalam kehidupan bersama sebagai suami istri.

Saturday, February 23, 2008

[Fadli Wdt Blog] Power Of One ...

One tree can start a forest…
Photobucket

One flower can awaken the dream…
Photobucket

Monday, January 14, 2008

[Fadli Wdt Blog] Berhentilah Jadi Gelas

Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.

“Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?” sang Guru bertanya.

“Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya,” jawab sang murid muda.

Sang Guru terkekeh. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.

“Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

[Fadli Wdt Blog] Berfokus Pada Kelebihan Diri

“Anak-anak, coba tuliskan tiga kelebihanmu,” kata seorang guru pada anak-anak sekolah dasar.

Menit demi menit berlalu namun anak-anak itu seakan masih bingung.

Dengan setengah berakting, sang guru kemudian bersuara keras :

“Ayo, tuliskan! Kalau ngga, kertasmu saya sobek lo.” Anak-anak manis itu seketika menjadi salah tingkah.

Beberapa di antara mereka, memang tampak mulai menulis. Salah satu di antara mereka menulis di atas kertas, “Kadang-kadang nurutin kata ibu. Kadang-kadang bantu ibu. Kadang-kadang nyuapin adik makan.”

Penuh rasa penasaran, sang guru bertanya kepadanya : “Kenapa tulisnya kadang-kadang?”.

Sunday, January 13, 2008

[Fadli Wdt Blog] Berfokus Pada Kelebihan Diri

“Anak-anak, coba tuliskan tiga kelebihanmu,” kata seorang guru pada anak-anak sekolah dasar.

Menit demi menit berlalu namun anak-anak itu seakan masih bingung.

Dengan setengah berakting, sang guru kemudian bersuara keras :

“Ayo, tuliskan! Kalau ngga, kertasmu saya sobek lo.” Anak-anak manis itu seketika menjadi salah tingkah.

Beberapa di antara mereka, memang tampak mulai menulis. Salah satu di antara mereka menulis di atas kertas, “Kadang-kadang nurutin kata ibu. Kadang-kadang bantu ibu. Kadang-kadang nyuapin adik makan.”

Penuh rasa penasaran, sang guru bertanya kepadanya : “Kenapa tulisnya kadang-kadang?”. Dengan wajah penuh keluguan, sang bocah hanya berkata :

“Emang cuma kadang-kadang, Bu guru.” !

Ketika semua anak telah menuliskan kelebihan dirinya, sang guru kemudian melanjutkan instruksi berikutnya :

“Sekarang anak-anak, coba tuliskan tiga kelemahanmu atau hal-hal yang buruk dalam dirimu.”
Seketika ruangan kelas menjadi gaduh. Anak-anak tampak bersemangat. Salah satu dari mereka angkat tangan dan bertanya :

“Tiga saja, Bu guru?”.

“Ya, tiga saja!” jawab sang guru. Anak tadi langsung menyambung :

“Bu guru, jangankan tiga, sepuluh juga bisa!”.

Apa pelajaran yang bisa kita petik dari cerita sederhana itu? Saya menangkap setidaknya ada beberapa hal penting yang bisa kita pelajari. Salah satunya, kita sering tidak menyadari apa kelebihan diri kita karena lingkungan dan orang di sekitar kita jauh lebih sering mengkomunikasikan kepada kita kejelekan dan kekurangan kita.

Baru-baru ini, saya menyaksikan di sebuah televisi swasta pertunjukkan seni dari para penyandang cacat. Kami benar-benar terharu. Ada orang buta yang begitu piawai bermain piano atau kecapi. Pria tanpa lengan dan wanita muda yang tuli dapat menari dengan begitu indahnya.

[Fadli Wdt Blog] Mencoba Beryukur Kembali

Something to share, take a moment to read….it should make you smile as deep in your heart you know that is how we should live our life.

Aku tak selalu mendapatkan apa yang kusukai, oleh karena itu aku selalu menyukai apa pun yang kudapatkan.

Kata - kata di atas merupakan wujud syukur. Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tenteram dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukurakan senantiasa membebani kita.Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia…..

[Fadli Wdt Blog] Hanyalah Hari Ini

Seorang bijak pernah berkata, bahwa ada dua hari dalam hidup ini yang sama sekali tak perlu kita khawatirkan.

Yang pertama: hari kemarin. kita tak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi. kita tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan. kita tak mungkin lagi menghapus kesalahan; dan mengulangi kegembiraan yang kita rasakan kemarin. Biarkan hari kemarin lewat; lepaskan saja.

Yang kedua: hari esok. Hingga mentari esok hari terbit, kita tak tahu apa yang akan terjadi. kita tak bisa melakukan apa-apa esok hari. kita tak mungkin sedih atau ceria di esok hari. Esok hari belum tiba; biarkan saja.

Saturday, January 12, 2008

[Fadli Wdt Blog] Sekantung Kue

Seorang wanita sedang menunggu di bandara suatu malam. Masih ada beberapa jam sebelum jadwal terbangnya tiba. Untuk membuang waktu, ia membeli buku dan sekantong kue di toko bandara, lalu menemukan tempat untuk duduk.

Sambil duduk wanita tersebut membaca buku yang baru saja dibelinya. Dalam keasyikannya tersebut ia melihat lelaki disebelahnya dengan begitu berani mengambil satu atau dua dari kue yang berada diantara mereka berdua. Wanita tersebut mencoba mengabaikan agar tidak terjadi keributan. Ia membaca, mengunyah kue dan melihat jam. Sementara si Pencuri Kue yang pemberani menghabiskan persediaannya.

Ia semakin kesal sementara menit-menit berlalu. Wanita itupun sempat berpikir: (”Kalau aku bukan orang baik sudah kutonjok dia!”). Setiap ia mengambil satu kue, si lelaki juga mengambil satu.